for whom? what for?

By aikndhya

sering ngeliat orang2 ato sekarang yg lagi ngetrend, mahasiswa berdemo kan?? yg tinggal di jakarta pasti sering ngeliat mahasiswa ato berbagai orang dari berbagai lembaga ato kantor berdemo. komentarnya macem2 mungkin ada yg cuma komen; “oh demo, udah biasa” “demo lagi? ngedemoin siapa?”

ada berbagai alasan mereka berdemo, misal menuntut kenaikan gaji, ato seperti sekarang yang lagi rame di bahas semua orang pertarungan antara cicak dan buaya yg sekarang ditambah dengan godzila. mereka bilang buaya terlalu maruk kasian cicak di jepit. yang mau saya tanyakan, sejak kapan nama sebuah lembaga berubah status menjadi nama binatang? ada namanya kan?? okelah itu cuma buat analogi, tapi kenapa harus pake nama binatang? saya g mihak siapa2 di sini, tapi coba kita bayangin sama2 seandainya nama kalian yang bagus dan parlente itu tiba2 di rubah menjadi badak atau cacing? hm….

k, back to the main topic, DEMO, apa si arti demo sebenernya? saya g mau menelaah dari bahasa mana kata demo itu diambil dan artinya apa, saya g mau jadi orang yg sok tau dan mendikte dengan memberi arti yg saya sendiri g yakin klo nanti arti yg saya kasi itu benar. ok, demo, dari yang saya liat di tivi2, demo itu segerombolan orang yang berjalan berkelompok, biasanya mereka adalah sekumpulan orang2 dari lembaga tertentu atau bisa juga sekelompok mahasiswa mengenakan jas almamater mereka, membawa bendera merah putih ato bendera kampus -bila mereka adalah mahasiswa- dan berteriak mengemukakan apa yang ingin mereka sampaikan. dan, yang saya liat lagi di tivi, demo itu di mana mereka melakukan teatrikal yang biasanya untuk menyinggung orang atau lembaga yang mereka demo. biasanya -sebagaimana yang saya liat di tivi (lagi)-  demo terkadang berakhir dengan damai tapi lebih sering berakhir dengan sikap yang sangat anarkis. seperti; penembakan, darah berserakan di jalan, penjarahan, dan lain sebagainya. lalu apa arti demo sebenarnya? apakah harus selalu berakhir dengan sikap yang anarkis? seandainya demo itu dilakukan oleh sekolompok mahasiswa, haruskas demo itu berakhir dengan sangat anrkis? saya juga dulu seorang mahasiswa, tapi klo diajak untuk berdemo, saya lebih bak berpikir dua kali, mungkin lebih. ‘apakah saya sudah mempunyai bukti yang kuat dan kesimpulan yang pantas untuk ikut berdemo? apakah tindakan saya sudah lebih baik daripada orang yang akan saya demo nanti?’ itu yang pasti ada di pikiran saya.

demo pertama yang saya lihat adalah pada tahun 1998, di mana pada saat itu -seingat saya- semua mahasiswa dari berbagai universitas di Jakarta menduduki gedung MPR/DPR dengan satu permintaan; meminta presiden Soeharto turun dari jabatannya. permintaan dikabulkan, mahasiswa bersorak-sorak layaknya anak kecil yang berhasil mendapatkan apa yang mereka minta dari orang tua mereka. pada saat itu, saya berpikir, ‘oh, demonya udah selesai, trus, mereka mau nggantiin pak Harto?’ pemikiran saya salah, yang ada malah berlanjut ke penjarahan, perang antara mahasiswa dan polisi, dan terus terang saya g tau apa yang terjadi setelah itu, yang saya tau belakangan banyak mahsiswa yang di culik dan hilang. buat saya itu resiko mereka berdemo dan menentang apa yang ada, tapi saya menghargai dengan apa yang sudah mereka lakukan, mereka mau tampil beda, itu yang ada di pikiran saya saat itu.

sampai sekarang, saya masih bertanya, untuk siapa dan dengan tujuan apa mereka berdemo? klo ditanya untuk siapa, mereka pasti akan menjawab ‘yah untuk rakyat, kami menjadi perwakilan suara rakyat yang suaranya g mungikin di dengar oleh pemerintah!’ fine, saya menghargai pendapat itu, tapi apa harus berakhir dengan anarkis dan memakan korban jiwa? itu yang di cari? memang tidak semua demo berakhir anarkis, tapi rata2 begitu kan? lalu dengan tujuan apa mereka berdemo? hanya untuk ikut trend? takut di bilang banci karena g pernah demo? -kenapa ketakutan selalu diidentikkan dengan banci? pelecehan buat kaum mereka, hargai.. – atau karena apa?? itu yang menjadi pertanyaan saya…

pada saat berdemo, apakah kalian hanya berdiri pada pengertian dan kesimpulan kalian sendiri? pada saat berdemo, apakah kalian sudah merasa lebih baik daripada orang yang kalian demo saat itu?  haruskah demo berakhir dengan tindakan anarkis? berdemo bagi saya, itu baik, kita menggunakan hak suara kita sebagai bangsa Indonesia, tapi akan lebih baik lagi bila kita bisa membuka mata, hati, dan telinga kita sebelum kita melakukan demo. sehingga tidak akan berakhir dengan anarkis dan tidak terpihak kepada satu pihak.

saya menghargai sikap teman2 yang melakukan demo, tetapi akan lebih baik bila kalian juga melakukannya dengan penuh sikap yang terdidik, dan bisa membuka mata, hati dan telinga kalian.

xoxo

RieK

Leave a Reply